BAYI LAHIR BULAN MEI 1998
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Nama : Sarah Astari
Kelas : 7ERupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.
1. Parafrasa
Coba dengar, ada bayi mengea di rumah tetangga. Suara tangisannya keras. Begitu lahir ditating tangan bidannya, walaupun darah dan air ketubannya belum kering. Tetapi, ia langsung memiliki utang sepuluh juta rupiah. Kalau dia jadi petani di desa, dia akan mensubsidi harga beras orang kota. Kalau dia jadi orang kota, dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya. Kalau dia bayar pajak, pajak itu sendiri mungkin menjadi peluru runcing ke pangkal aortanya yang dibidikkan mendesing. Cobalah nasihati bayi ini dengn penataran juga. Saat mulutmu belum selesai bicara, kau pasti dikencinginya.
2. Pesan Pengarang
Pengarang puisi ini adalah Taufik Ismail. Menurut saya, pesan Taufik Ismail yang terkandung dalam puisi ini adalah bagaimana nasib dan kehidupan seorang anak yang lahir pada bulan Mei 1998, ketika sedang terjadi peristiwa pemberontakan masyarakat.
Sunday, December 7, 2008
Pantun
Pantun
Ciri-ciri Pantun:
1. Menggunakan rima a-b-a-b
2. Terdiri dari 1 bait (4 baris)
3. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata
4. Baris 1 dan 2 adalah sampiran
Baris 3 dan 4 adalah isi
Pantun buatan sendiri:
§ Kalau sudah punya istri
Jangan suka bermain mata
Wahai kamu cantik sekali
Hati pun jadi berkaca-kaca
§ Si Budi datang ke kota
Di kota belajar bahasa Inggris
Hei kamu berkacamata
Dilihat darijauh tatap manis
§ Si Mali itu orang dayak
Suku dayak masih asli
Kalau makan jangan banyak-banyak
Nanti perutnya gendut sekali
§ Matahari mulai menyusut
Air laut mulai pasang
Jangan pasang muka cemberut
Nanti kamu tidak disayang
Ciri-ciri Pantun:
1. Menggunakan rima a-b-a-b
2. Terdiri dari 1 bait (4 baris)
3. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata
4. Baris 1 dan 2 adalah sampiran
Baris 3 dan 4 adalah isi
Pantun buatan sendiri:
§ Kalau sudah punya istri
Jangan suka bermain mata
Wahai kamu cantik sekali
Hati pun jadi berkaca-kaca
§ Si Budi datang ke kota
Di kota belajar bahasa Inggris
Hei kamu berkacamata
Dilihat darijauh tatap manis
§ Si Mali itu orang dayak
Suku dayak masih asli
Kalau makan jangan banyak-banyak
Nanti perutnya gendut sekali
§ Matahari mulai menyusut
Air laut mulai pasang
Jangan pasang muka cemberut
Nanti kamu tidak disayang
Cerpen
Cerpen
Bude Asih Peneliti Tanaman Obat[1]
Karya Puji Sumedi Hanggarwati
Sekar berlari-lari kecil mengejar burung kutilang yang bertengger di dahan pohon mangga. Sekar terpana melihat keidahan bulu burung kutilang itu.
“Subhanallah, bulunya mengkilat. Paruhnya kuning. Hmm, ternyata lantang suaranya tak sebanding dengan ukuran tubuhnya.,” batin Sekar .
“Sekar, sarapan yuk” ajak Dinda sepupu Sekar.
Ya, sejak 2 hari lalu Sekar berlibur di rumah Bude Asih di Malang. Bude Asih adalah peneliti yang bekerja di Balai Tanaman Obat. Sekar betah sekali di rumah budenya.
“Iya, Mbak. Sebentar lagi,” kata Sekar.
“Jangan lama-lama ya” kata Dinda mengingatkan.
Hari itu adalah kali pertama Sekar akan diajak ke Kebun Tanaman Obat. Di sana ada sekitar 400 tanaman obat yang diteliti dan dikembangkan oleh Bude Asih dan pegawainya.
“Assalamu’alaikum, Mbak Dinda” sapa sorang lelaki setangah baya.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk Lek Diran. Maaf, kami sarapan dulu, ya,” Kata Dinda.
“Ndak apa-apa, kudanya juga lagi makan kok Mbak,” kata Lek Diran.
“Tuh Lek Diran sudah datang.”
“Lek Diran itu siapa Mbak Dinda?” Tanya Sekar.
“Itu pegawai ibu. Dia kusir yang mengantarkan kita ke kebun.”
“Ooo. Kita makan di delman saja Mbak,” usul Sekar.
“Idih, bau lagi.”
“Kali aja Mbak Dinda sudah terbiasa.”
“Eh, Non. Meski kita tinggal di kampong, masih punya etika tau,” kata Mbak Dinda cemberut.
“Maaf, maaf. Bercanda Mbak,” kata Sekar.
Delman yang membawa dua gadis kecil itu melewati pinggir sawah. Tampak Gunung Semeru menjulang tinggi.
“Mbak Sekar krasan disini?” Tanya Lek Diran.
“Iya, Lek,” kata Sekar.
“Mas dan Mbak mahasiswa juga sering kemari. Mereka juga selalu bilang disini enak. Bu Asih baik, sih,” kata Lek Diran.
Tampaknya dari jauh, Bude Asih sedang memberikan pengarahan kepada pegawainya.
“Bude sedang apa Mbak?” Tanya Sekar.
“Ya, itu tugas ibu sehari-hari.”
“Bu Asih itu hebat Mbak Sekar. Kalau sudah di Lab, ia sampai malam. Tapi kalau ada orang datang minta pertolongan, malam-malam juga bangun. Pernah saya mengantar Bu Asih mengobati orang di kampung yang jauh. Padahal jam 2 malam,” cerita Lek Diran. Sekar mengangguk-angguk.
“Subhanallah, Bude Hebat ya” batin Sekar.
Bude Asih memang wanita yang hebat. Lebih dari tigapuluh tahun ia mengabdikan diri pada tanaman obat. Bude baru dikaruniai anak pada usia yang cukup tua karena kesibukannya meneliti.
Setibany di kebun obat, tampak di kanan kiri jalan pohon alang-alang dan putri malu.
“Bude mengapa alang-alang dan putrid malu ini dibiarkan tumbuh? Durinya kan berbahaya,” kata Sekar.
“O, o. Itu bukan tanaman liar, Sayang. Itu obat,” kata Bude Asih.
“Untuk apa Bude?” Tanya Sekar.
“Putri malu berguna untuk mengobati sulit tidur dan rematik. Itu lho, penyakit yang biasa diderita oleh orang tua.”
“Kalau alang-alang?”
“Sekar pernah mimisan?” Tanya Bude Asih.
“Sinta teman sekilah Sekar pernah mimisan. Ada darah keluar dari hidungnya. Ih, ngeri,” kata Sekar.
“Nah, daun alang-alang ini bisa menyembuhkan mimisan,” kata Bude Asih.
Dari jauh tampak Lak Diran berlari-lari kecil.
“Ada apa Lek Diran, Bu?” tanya Dinda.
“Mungkin ada tamu.”
Dari jauh tampak dua mobil putih berhenti di depan kebun.
“Oh, maaf. Ibu punya janji. Maaf ya Sekar. Bude harus menemui tamu.”
“Mereka siapa Bude?”
“Mungkin bapak-bapak dari farmasi. Dinda, ajak Sekar bermain ya.”
“Tenang, Bu. Dinda mau ajak Sekar cari daun lidah buaya. Nanti kita bikin manisan lidah buaya. Minuman enak dan berkhasiat menyembuhka sariawan dan panas dalam,” kata Dinda.
“Oke deh!” kata Sekar bersemangat.
“Bude Asih memang bukan wanita biasa,” kata Sekar dalam hati.
Menandai Kata-kata Sulit dan Menerjemahkannya
Mimisan : Penyakit dengan darah yang keluar dari hidung
Lidah Buaya : Janis tanaman yang memiliki duri; memiliki banyak khasiat
Pesan Tersirat
Pengobatan tradisional (tanaman obat/herbal) dapat merupakan salah satu alternative penyembuhan penyakit.
Pesan Pengarang
Agar pembaca dapat mengetahui manfaat-manfaat berbagai tanaman untuk kesehatan.
[1] Sumber: Majalah “Aku Anak Saleh” edisi IX April-Mei 2003 hal. 12-13
Bude Asih Peneliti Tanaman Obat[1]
Karya Puji Sumedi Hanggarwati
Sekar berlari-lari kecil mengejar burung kutilang yang bertengger di dahan pohon mangga. Sekar terpana melihat keidahan bulu burung kutilang itu.
“Subhanallah, bulunya mengkilat. Paruhnya kuning. Hmm, ternyata lantang suaranya tak sebanding dengan ukuran tubuhnya.,” batin Sekar .
“Sekar, sarapan yuk” ajak Dinda sepupu Sekar.
Ya, sejak 2 hari lalu Sekar berlibur di rumah Bude Asih di Malang. Bude Asih adalah peneliti yang bekerja di Balai Tanaman Obat. Sekar betah sekali di rumah budenya.
“Iya, Mbak. Sebentar lagi,” kata Sekar.
“Jangan lama-lama ya” kata Dinda mengingatkan.
Hari itu adalah kali pertama Sekar akan diajak ke Kebun Tanaman Obat. Di sana ada sekitar 400 tanaman obat yang diteliti dan dikembangkan oleh Bude Asih dan pegawainya.
“Assalamu’alaikum, Mbak Dinda” sapa sorang lelaki setangah baya.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk Lek Diran. Maaf, kami sarapan dulu, ya,” Kata Dinda.
“Ndak apa-apa, kudanya juga lagi makan kok Mbak,” kata Lek Diran.
“Tuh Lek Diran sudah datang.”
“Lek Diran itu siapa Mbak Dinda?” Tanya Sekar.
“Itu pegawai ibu. Dia kusir yang mengantarkan kita ke kebun.”
“Ooo. Kita makan di delman saja Mbak,” usul Sekar.
“Idih, bau lagi.”
“Kali aja Mbak Dinda sudah terbiasa.”
“Eh, Non. Meski kita tinggal di kampong, masih punya etika tau,” kata Mbak Dinda cemberut.
“Maaf, maaf. Bercanda Mbak,” kata Sekar.
Delman yang membawa dua gadis kecil itu melewati pinggir sawah. Tampak Gunung Semeru menjulang tinggi.
“Mbak Sekar krasan disini?” Tanya Lek Diran.
“Iya, Lek,” kata Sekar.
“Mas dan Mbak mahasiswa juga sering kemari. Mereka juga selalu bilang disini enak. Bu Asih baik, sih,” kata Lek Diran.
Tampaknya dari jauh, Bude Asih sedang memberikan pengarahan kepada pegawainya.
“Bude sedang apa Mbak?” Tanya Sekar.
“Ya, itu tugas ibu sehari-hari.”
“Bu Asih itu hebat Mbak Sekar. Kalau sudah di Lab, ia sampai malam. Tapi kalau ada orang datang minta pertolongan, malam-malam juga bangun. Pernah saya mengantar Bu Asih mengobati orang di kampung yang jauh. Padahal jam 2 malam,” cerita Lek Diran. Sekar mengangguk-angguk.
“Subhanallah, Bude Hebat ya” batin Sekar.
Bude Asih memang wanita yang hebat. Lebih dari tigapuluh tahun ia mengabdikan diri pada tanaman obat. Bude baru dikaruniai anak pada usia yang cukup tua karena kesibukannya meneliti.
Setibany di kebun obat, tampak di kanan kiri jalan pohon alang-alang dan putri malu.
“Bude mengapa alang-alang dan putrid malu ini dibiarkan tumbuh? Durinya kan berbahaya,” kata Sekar.
“O, o. Itu bukan tanaman liar, Sayang. Itu obat,” kata Bude Asih.
“Untuk apa Bude?” Tanya Sekar.
“Putri malu berguna untuk mengobati sulit tidur dan rematik. Itu lho, penyakit yang biasa diderita oleh orang tua.”
“Kalau alang-alang?”
“Sekar pernah mimisan?” Tanya Bude Asih.
“Sinta teman sekilah Sekar pernah mimisan. Ada darah keluar dari hidungnya. Ih, ngeri,” kata Sekar.
“Nah, daun alang-alang ini bisa menyembuhkan mimisan,” kata Bude Asih.
Dari jauh tampak Lak Diran berlari-lari kecil.
“Ada apa Lek Diran, Bu?” tanya Dinda.
“Mungkin ada tamu.”
Dari jauh tampak dua mobil putih berhenti di depan kebun.
“Oh, maaf. Ibu punya janji. Maaf ya Sekar. Bude harus menemui tamu.”
“Mereka siapa Bude?”
“Mungkin bapak-bapak dari farmasi. Dinda, ajak Sekar bermain ya.”
“Tenang, Bu. Dinda mau ajak Sekar cari daun lidah buaya. Nanti kita bikin manisan lidah buaya. Minuman enak dan berkhasiat menyembuhka sariawan dan panas dalam,” kata Dinda.
“Oke deh!” kata Sekar bersemangat.
“Bude Asih memang bukan wanita biasa,” kata Sekar dalam hati.
Menandai Kata-kata Sulit dan Menerjemahkannya
Mimisan : Penyakit dengan darah yang keluar dari hidung
Lidah Buaya : Janis tanaman yang memiliki duri; memiliki banyak khasiat
Pesan Tersirat
Pengobatan tradisional (tanaman obat/herbal) dapat merupakan salah satu alternative penyembuhan penyakit.
Pesan Pengarang
Agar pembaca dapat mengetahui manfaat-manfaat berbagai tanaman untuk kesehatan.
[1] Sumber: Majalah “Aku Anak Saleh” edisi IX April-Mei 2003 hal. 12-13
Pengalaman yang mengesankan (bukan ujian praktek)
Menceritakan Pengalaman Pribadi
Perpisahan Kelas 6
Tanggal 28-29 Juni 2008 adalah tanggal berlangsungnya acara perpisahan kelas 6 angkatan 7 SDI Al-Azhar 15 Pamulang. Acara perpisahan diadakan di daerah Ciawi,Bogor. Tepatnya di penginapan Lembur Pancawati.
Acara tersebut terasa sangat mengesankan bagiku. Pada malam tanggal 28, ada acara api unggun. Di acara itu, murod-murid diperkenankan untuk tampil. Aku dan sekitar sepuluh orang temanku yang lain, tampil dengan menyanyikan 2 lagu. Diiringi petikan 2 orang temanku, aku dan taman-temanku menyanyikan lagu More Than Words-nya Westlife dan Hey Gadis-nya Samsons.
Setelah acara api unggun, semua menuju ke kamar masing-masing. Aku sekamar dengan 5 temanku, Fheby, Anggia, Nadia, Arfy, dan Audy. Malam itu, aku dan Anggi tidak nisa tidur. Jadi kami keluar kamar dan mengumpul dengan teman-teman yang tidak bias tidur juga.
Besoknya, tanggal 29 Juni, kami pulang dengan menggunakan bus. Ingin rasanya berlama-lama di sana. Bermain dan ngobrol dengan teman-teman yang SMP-nya tidak sama denganku. Tapi, mau bagaimana lagi. Memang sudah takdir untuk pulang. Jadi, kami pulang. Selama di bus, kami bercengkrama. Bernyanyi, ada yang ngelawak, ada juga yang nembak. Pokoknya, ini adalah pengalaman yang mengasankan sekaligus sedih bagiku karena itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan beberapa temanku sampai sekarang.
Cara bercerita yang baik adalah:
1. Suaranya menyesuaikan luas ruangan (apabila ruangan yang dipakai besar, suaranya keras. Kalau kecil, suaranya biasa-biasa saja).
2. Garak tubuh dan perubahan posisi juga diperhatikan.
3. Ekspresi atau mimik muka
4. Malihat ke panonton, tidak menunduk
5. Usahkan tidak gerogi saat bercerita
Nama : Sarah Astari
Kelas : 7E
Absen : 35
Perpisahan Kelas 6
Tanggal 28-29 Juni 2008 adalah tanggal berlangsungnya acara perpisahan kelas 6 angkatan 7 SDI Al-Azhar 15 Pamulang. Acara perpisahan diadakan di daerah Ciawi,Bogor. Tepatnya di penginapan Lembur Pancawati.
Acara tersebut terasa sangat mengesankan bagiku. Pada malam tanggal 28, ada acara api unggun. Di acara itu, murod-murid diperkenankan untuk tampil. Aku dan sekitar sepuluh orang temanku yang lain, tampil dengan menyanyikan 2 lagu. Diiringi petikan 2 orang temanku, aku dan taman-temanku menyanyikan lagu More Than Words-nya Westlife dan Hey Gadis-nya Samsons.
Setelah acara api unggun, semua menuju ke kamar masing-masing. Aku sekamar dengan 5 temanku, Fheby, Anggia, Nadia, Arfy, dan Audy. Malam itu, aku dan Anggi tidak nisa tidur. Jadi kami keluar kamar dan mengumpul dengan teman-teman yang tidak bias tidur juga.
Besoknya, tanggal 29 Juni, kami pulang dengan menggunakan bus. Ingin rasanya berlama-lama di sana. Bermain dan ngobrol dengan teman-teman yang SMP-nya tidak sama denganku. Tapi, mau bagaimana lagi. Memang sudah takdir untuk pulang. Jadi, kami pulang. Selama di bus, kami bercengkrama. Bernyanyi, ada yang ngelawak, ada juga yang nembak. Pokoknya, ini adalah pengalaman yang mengasankan sekaligus sedih bagiku karena itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan beberapa temanku sampai sekarang.
Cara bercerita yang baik adalah:
1. Suaranya menyesuaikan luas ruangan (apabila ruangan yang dipakai besar, suaranya keras. Kalau kecil, suaranya biasa-biasa saja).
2. Garak tubuh dan perubahan posisi juga diperhatikan.
3. Ekspresi atau mimik muka
4. Malihat ke panonton, tidak menunduk
5. Usahkan tidak gerogi saat bercerita
Nama : Sarah Astari
Kelas : 7E
Absen : 35
Sinopsis novel
That Silent Summer
“Saat Kata-kata Tidaklah Cukup”
A. Sinopsis:
Kami Mulai memanggilnya Minnow sejak kami sadar dia berbakat berenang. Dalam sejenak semua orang di sekitar Danau Birch memanggilnya Minnow. Minnow datang ke pondok kami pada Musim Panas Dayung Ungu.
Kejadiannya sudah lama sekali. Sekitar 5 tahun yang lalu. Waktu itu aku belum suka membuat catatan. Jadi, kalau ada fakta-fakta yang tertinggal, kalian tidak akan tahu, karena kalian kan tidak ada di sana.
Musim Panas Dayung Ungu adalah musim panas yang indah bagiku. Walaupun pada awalnya tidak begitu. Minnow merengek ketika pertama kali datang ke pondok kami. Minnow tidak mau tinggal di pondok kami. Lagipula, mana ada anak yang mau menghabiskan liburan musim panasnya bersama 3 orang tua yang tinggal menunggu ajalnya ini. Minnow adalah tipe gadis kota yang menyukai jalan tol, rumah bagus, game computer, dan kamar yang didekor dengan sebegitu indahnya.
Kami menuju ke dermaga dan melambai ke pondok. Tetapi, Minnow tak bergeming. Saat itulah Yanny teringat pai raspberry. Yanny adalah nenek Minnow. Yanny juga adikku yang lahir 5 tahun seteleah aku. Lalu ada juga Cliff. Cliff juga adikku. Ia lahir 5 tahun setelah Yanny. Dan aku, namaku Anna. Aku berhenti berbicara sejak bertahun-tahun yang lalu. Kami bertiga tinggal di pondok kayu di puncak bukit, sebelah utara Danau Birch.
Adikku Cliff tersaruk-saruk menghampiri Minnow. Ia ingin membacakan puisi karyanya sendiri kepada Minnow. Puisi itu dipersembahkan untuk Gabby G. Cooper. Ya, itu nama asli Minnow. Nama Minnoiw itu lebih baik dari nama Gabby. Mana ada orang tua yang mau member nama anaknya seperti itu. Mungkiln tidak untuk ibu Minnow. Ya sudah lah, itu cerita lain.
Esoknya, Yanny mengajak Minnow untuk menemaninya bersampan ke Pulau Piknik. Pulau Piknik adalah sebuah pulau yang berada di tengah-tengah Danau Birch. Pulau itu sangat indah. Minnow mengikuti Yanny ogah-ogahan. Yanny menunjuk kea rah burung loon, berharap cucuknya itu akan sedikit tertarik dengan danau ini. Benar saja, ketika seekor loon menyelam untuk mencari makan, sekitar setengah menit, Minnow mulai berhenti melempar batu pink dan mulai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru danau, mencari loon yang hilang itu. Ketika loon itu muncul lagi, Minnow terlihat kaget. Kelihatannya, ia mulai tertarik dengan danau ini. Juga liburan musim panas ini tentunya.
Esok hari, Yanny membuatkan pai lamon meringue. Yap, itu adalah pai kesukaan Minnow. Tapi, Yanny tidak sempat memakan pai itu. Tidak sesendok pun. Telepon bordering. Yanny yang mengangkatnya. Setelah ia meletakkan gagang telepon, diam-diam ia meninggalkan pondok. Cliff menyusul. Sejurus kemudian ia kembali dengan kepala tertunduk, dan mengartakan bahwa Maude telah meninggal. Ia meninggal dalam tidurnya. Yanny sangat berduka. Tetapi, setelah pulang dari pemakaman, ia menerima sebuah dayung. Dayung itu adalah Dayung Ungu, dayung buatan tangan Maude. Yanny sangat menyayangi dayung itu.
Oiya, aku belum menceritakan padamu tentang Bow Bow Pom Pom. Bow Bow Pom Pom adalah boneka badut kesanyangan Minnow. Menurutku, Minnow sudah terlalu besar untuk bermain dengan Bow Bow Pom Pom. Boneka itu terlihat kotor dan using. Tapi, Minnow saying sekali padanya.
Minnow belajar berenang. Dan ketika ia sudah mencapai alang-alang, aku bertepuk tangan. Minnow melambai dan membalas senyum kepadaku. Ia berenang kembali ke tepi danau dan naik ke atas batu, mengeringkan tubuhnya di bawah sinar matahari.
Aku mendengar bunyi dentuman kayu dan gergaji di teluk sebelah. Sesuatu sedang berlangsung disana, itu jelas, sesuatu yang bakal membuat Yanny waspada. Yap, Yanny muncul di tepi danau dengan menjinjing tiga dayung –dayung ungu, dayung kayu yang sudah retak, dan dayung anak-anak- Ia memakai jaket pelampung diatas gaun kembang-kembangnya. Ia mengajak aku dan Minnow untuk mendayung ke Pulau Piknik, melihat apa yang sedang terjadi di teluk sebelah. Sambil mendayung, Tanny menceritakan tentang pengalamannya berkemah bersama Maude di Pulau Piknik, sambil sesekali mengomentari caraku mendayung. Kami sampai di pulau tepat katika Yanny menyelesaikan ceritanya. Ia langsung turun dan berjalan cepat ke sisi seberang pulau. Aku dan Minnow menyusulnya.
Yanny terkejut bukan main ketika melihat apa yang ada di teluk seberang. Begitu pula dengan aku dan Minnow. Kami melihat sebuah bangunan megah. Seperti kastil. Ya memang kastil, kastil yang megah dan mewah. Yanny langsung mengajak kami mendayung ke sana. Kau tahu apa yang terjadi? Ternyata, semua pohon Birch telah habis dikuliti. Dan, kulit pohon Birch itu, dipakai untuk menutupi seluruh tembok luar kastil.
Yanny bergegas menuju ke rumah Montgomery Moore. Rumahnya tepat di sebelah kastil megah itu. Yanny menanyakan apa yang tela hterjadi. Awalnya Montgomery tidak mau menjawab. Memang, Yanny bertengkar hebat dengan Montgomery Moore karena Montgomery mengatai bunga Violet Yanny layu. Tapi, karena sedang menghadapi masalah seperti ini, Yanny mengalah. Ia mengakui kalau bunga Violet milik Montgomery Moore lebih bagus dan hidup dibandingkan dengan bunga Violet miliknya. Akhirnya, Montgomery menceritakan apa yang telah terjadi di senelah rumahnya itu. Setelah itu, Yanny bergegas pulang. Begitu juga aku dan Minnow.
Pada pertemuan dengan Montgomery Moore itu, Gabby (alyas Minnow) memperkenalkan diri. Montgomery bilang bahwa cucuk buyutnya akan datang minnu depan. Benar saja. Ketika Minnow sedang duduk di batu, datang seorang anak perempuan berambut biru. Ia menyapa Minnow dan mengajaknya berenag di danau. Tak kusangka, ia tau semua rahasiaku. Ia memberitahukan semuanya ke Minnow. Nama anak itu Stanley. Ia juga tipe anak kota seperti Minnow. Stanley terkikik ketika Minnow memperkenalkanku padanya.
Aku, Minnow, dan Stanley menuju ke teluk sebelah. Kami melewati kastil bermasalah itu. Disana terpampang jelas tulisan “Birchbark Castle : Di Mana Kau Bisa menjadi Bangsawan”. Kami pun menuju ke rumah Montgomery Moore untuk tahu lebih jelas tentang kastil itu. Ia memberitahukan bahwa wanita yang menaiki ski-doo tadi adalah pemilik kastil itu. Setelah Minnow puas bertanya-tanya, kami berdua pulang. Ternyata, itu adalah terakhir kalinya kami melihat rumah Montgomery Moore.
Esoknya, Stanley berkunjung lagi ke pondok kami. Ketika sedang asyik mengobrol, Yanny dan Cliff keluar dari pondok sambil berteriak kebakaran. Memang terlihat asap mengepul dari teluk sebelah. Yanny dan Cliff menyebrangi danau menggunakan sampan. Sementara aku, Minnow, dan Stanley menggunakan truk, melewati jalan raya. Tak kusangka, yang terbakar itu adalah rumah milik Montgomery Moore. Menurut Inspektur Bonnel, api bersumber dari kastil. Orang-orang di kastil membakar hotdog dan marshmallow tetapi kurang cermat mematikan apinya. Sehingga ketika angin bertiup, api terbawa angin ke rumah keluarga Moore. Untung saja ketika kejadian, Montgomery Moore sedang tidak di rumah, jadi ia selamat.
Untuk sementara. Montgomery Moore dan Stanley tinggal di pondok kami. Minnow bersedia meminjamkan Bow Bow Pom Pom miliknya kepada Stanley yang sedang dilanda kesedihan itu.
Tak terasa, musim panas sudah akan usai. Minnow berencana untuk berenang menuju Pulau Piknik, seperti yang dilakukan ibunya dulu. Dan ketika ia berenang, aku yang bersampan di sampingnya sekaligus mendampinginya. Dan ketika Minnow berhasil mencapai Pulau Piknik, kami (aku, Yanny, Cliff, Montomery, dan Stanley) memberikan ucapan selamat kepadanya. Yanny membuat pai yang sangat enak. Stanley memberikan Minnow gelang dengan manik-manik biru buatan sendiri.
Ada kejutan. Ibu Minnow, Mariane, kembali setelah sekitar 30 tahun tidak pulang. Dan menjelang akhir musim panas, Yanny, Mariane, dan Minnow bersampan ke Pulau Piknik. Tiga generasi dalam satu sampan.Sangat indah.
-TAMAT-
B. Tokoh dan Watak
Tokoh
Watak
Gabby G. Cooper / Minnow
Baik, periang, mudah berteman, suka menolong, tipe pekerja keras, tidah mudah menyerah
Anna
Baik, tidak pernah bicara, pengertian, ramah
Yanny
Baik, penyayang, keras kepala, berjiwa memasak, kukuh dengan pendirian
Cliff
Baik, pengertian, penyayang, puitis, suka menolong
Montgomery Moore
Baik, kadang menyebalkan, pengertian, tegar, ramah, tampan
Stanley
Baik, suka menolong, bosanan, periang, penyayang
Wanita pemilik kastil
Cukup baik, ramah, tidak mudah marah
C. Tokoh yang disukai
Saya menyukai tokoh Cliff karena ia tidak mudah menyerah dan suka menolong orang juga pengertian. Cliff itu baik hati.
D. Tokoh yang dilanjutkan Hidupnya
Saya akan melanjutkan hidup Anna. Pada akhirnya, Montgomery Moore melamar Anna. Wanita sekitar Danau Birch heran dan cemburu. Anna pun menerima lamaran Montgomery Moore. Mereka manikah, walaupun Anna lebih tua 5 tahun disbanding Montgomery Moore. Anna meniggal pada usia 95 tahun.
E. Lain-lain
Nama Pengarang : Elaine Medline
Tahun penulisan (asli): 1999
Tahun terbit(di Indonesia): Juli 2008
Jumlah halaman : 184 halaman
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke : 1 (pertama)
Sarah Astari (Ara) 7E / 35
“Saat Kata-kata Tidaklah Cukup”
A. Sinopsis:
Kami Mulai memanggilnya Minnow sejak kami sadar dia berbakat berenang. Dalam sejenak semua orang di sekitar Danau Birch memanggilnya Minnow. Minnow datang ke pondok kami pada Musim Panas Dayung Ungu.
Kejadiannya sudah lama sekali. Sekitar 5 tahun yang lalu. Waktu itu aku belum suka membuat catatan. Jadi, kalau ada fakta-fakta yang tertinggal, kalian tidak akan tahu, karena kalian kan tidak ada di sana.
Musim Panas Dayung Ungu adalah musim panas yang indah bagiku. Walaupun pada awalnya tidak begitu. Minnow merengek ketika pertama kali datang ke pondok kami. Minnow tidak mau tinggal di pondok kami. Lagipula, mana ada anak yang mau menghabiskan liburan musim panasnya bersama 3 orang tua yang tinggal menunggu ajalnya ini. Minnow adalah tipe gadis kota yang menyukai jalan tol, rumah bagus, game computer, dan kamar yang didekor dengan sebegitu indahnya.
Kami menuju ke dermaga dan melambai ke pondok. Tetapi, Minnow tak bergeming. Saat itulah Yanny teringat pai raspberry. Yanny adalah nenek Minnow. Yanny juga adikku yang lahir 5 tahun seteleah aku. Lalu ada juga Cliff. Cliff juga adikku. Ia lahir 5 tahun setelah Yanny. Dan aku, namaku Anna. Aku berhenti berbicara sejak bertahun-tahun yang lalu. Kami bertiga tinggal di pondok kayu di puncak bukit, sebelah utara Danau Birch.
Adikku Cliff tersaruk-saruk menghampiri Minnow. Ia ingin membacakan puisi karyanya sendiri kepada Minnow. Puisi itu dipersembahkan untuk Gabby G. Cooper. Ya, itu nama asli Minnow. Nama Minnoiw itu lebih baik dari nama Gabby. Mana ada orang tua yang mau member nama anaknya seperti itu. Mungkiln tidak untuk ibu Minnow. Ya sudah lah, itu cerita lain.
Esoknya, Yanny mengajak Minnow untuk menemaninya bersampan ke Pulau Piknik. Pulau Piknik adalah sebuah pulau yang berada di tengah-tengah Danau Birch. Pulau itu sangat indah. Minnow mengikuti Yanny ogah-ogahan. Yanny menunjuk kea rah burung loon, berharap cucuknya itu akan sedikit tertarik dengan danau ini. Benar saja, ketika seekor loon menyelam untuk mencari makan, sekitar setengah menit, Minnow mulai berhenti melempar batu pink dan mulai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru danau, mencari loon yang hilang itu. Ketika loon itu muncul lagi, Minnow terlihat kaget. Kelihatannya, ia mulai tertarik dengan danau ini. Juga liburan musim panas ini tentunya.
Esok hari, Yanny membuatkan pai lamon meringue. Yap, itu adalah pai kesukaan Minnow. Tapi, Yanny tidak sempat memakan pai itu. Tidak sesendok pun. Telepon bordering. Yanny yang mengangkatnya. Setelah ia meletakkan gagang telepon, diam-diam ia meninggalkan pondok. Cliff menyusul. Sejurus kemudian ia kembali dengan kepala tertunduk, dan mengartakan bahwa Maude telah meninggal. Ia meninggal dalam tidurnya. Yanny sangat berduka. Tetapi, setelah pulang dari pemakaman, ia menerima sebuah dayung. Dayung itu adalah Dayung Ungu, dayung buatan tangan Maude. Yanny sangat menyayangi dayung itu.
Oiya, aku belum menceritakan padamu tentang Bow Bow Pom Pom. Bow Bow Pom Pom adalah boneka badut kesanyangan Minnow. Menurutku, Minnow sudah terlalu besar untuk bermain dengan Bow Bow Pom Pom. Boneka itu terlihat kotor dan using. Tapi, Minnow saying sekali padanya.
Minnow belajar berenang. Dan ketika ia sudah mencapai alang-alang, aku bertepuk tangan. Minnow melambai dan membalas senyum kepadaku. Ia berenang kembali ke tepi danau dan naik ke atas batu, mengeringkan tubuhnya di bawah sinar matahari.
Aku mendengar bunyi dentuman kayu dan gergaji di teluk sebelah. Sesuatu sedang berlangsung disana, itu jelas, sesuatu yang bakal membuat Yanny waspada. Yap, Yanny muncul di tepi danau dengan menjinjing tiga dayung –dayung ungu, dayung kayu yang sudah retak, dan dayung anak-anak- Ia memakai jaket pelampung diatas gaun kembang-kembangnya. Ia mengajak aku dan Minnow untuk mendayung ke Pulau Piknik, melihat apa yang sedang terjadi di teluk sebelah. Sambil mendayung, Tanny menceritakan tentang pengalamannya berkemah bersama Maude di Pulau Piknik, sambil sesekali mengomentari caraku mendayung. Kami sampai di pulau tepat katika Yanny menyelesaikan ceritanya. Ia langsung turun dan berjalan cepat ke sisi seberang pulau. Aku dan Minnow menyusulnya.
Yanny terkejut bukan main ketika melihat apa yang ada di teluk seberang. Begitu pula dengan aku dan Minnow. Kami melihat sebuah bangunan megah. Seperti kastil. Ya memang kastil, kastil yang megah dan mewah. Yanny langsung mengajak kami mendayung ke sana. Kau tahu apa yang terjadi? Ternyata, semua pohon Birch telah habis dikuliti. Dan, kulit pohon Birch itu, dipakai untuk menutupi seluruh tembok luar kastil.
Yanny bergegas menuju ke rumah Montgomery Moore. Rumahnya tepat di sebelah kastil megah itu. Yanny menanyakan apa yang tela hterjadi. Awalnya Montgomery tidak mau menjawab. Memang, Yanny bertengkar hebat dengan Montgomery Moore karena Montgomery mengatai bunga Violet Yanny layu. Tapi, karena sedang menghadapi masalah seperti ini, Yanny mengalah. Ia mengakui kalau bunga Violet milik Montgomery Moore lebih bagus dan hidup dibandingkan dengan bunga Violet miliknya. Akhirnya, Montgomery menceritakan apa yang telah terjadi di senelah rumahnya itu. Setelah itu, Yanny bergegas pulang. Begitu juga aku dan Minnow.
Pada pertemuan dengan Montgomery Moore itu, Gabby (alyas Minnow) memperkenalkan diri. Montgomery bilang bahwa cucuk buyutnya akan datang minnu depan. Benar saja. Ketika Minnow sedang duduk di batu, datang seorang anak perempuan berambut biru. Ia menyapa Minnow dan mengajaknya berenag di danau. Tak kusangka, ia tau semua rahasiaku. Ia memberitahukan semuanya ke Minnow. Nama anak itu Stanley. Ia juga tipe anak kota seperti Minnow. Stanley terkikik ketika Minnow memperkenalkanku padanya.
Aku, Minnow, dan Stanley menuju ke teluk sebelah. Kami melewati kastil bermasalah itu. Disana terpampang jelas tulisan “Birchbark Castle : Di Mana Kau Bisa menjadi Bangsawan”. Kami pun menuju ke rumah Montgomery Moore untuk tahu lebih jelas tentang kastil itu. Ia memberitahukan bahwa wanita yang menaiki ski-doo tadi adalah pemilik kastil itu. Setelah Minnow puas bertanya-tanya, kami berdua pulang. Ternyata, itu adalah terakhir kalinya kami melihat rumah Montgomery Moore.
Esoknya, Stanley berkunjung lagi ke pondok kami. Ketika sedang asyik mengobrol, Yanny dan Cliff keluar dari pondok sambil berteriak kebakaran. Memang terlihat asap mengepul dari teluk sebelah. Yanny dan Cliff menyebrangi danau menggunakan sampan. Sementara aku, Minnow, dan Stanley menggunakan truk, melewati jalan raya. Tak kusangka, yang terbakar itu adalah rumah milik Montgomery Moore. Menurut Inspektur Bonnel, api bersumber dari kastil. Orang-orang di kastil membakar hotdog dan marshmallow tetapi kurang cermat mematikan apinya. Sehingga ketika angin bertiup, api terbawa angin ke rumah keluarga Moore. Untung saja ketika kejadian, Montgomery Moore sedang tidak di rumah, jadi ia selamat.
Untuk sementara. Montgomery Moore dan Stanley tinggal di pondok kami. Minnow bersedia meminjamkan Bow Bow Pom Pom miliknya kepada Stanley yang sedang dilanda kesedihan itu.
Tak terasa, musim panas sudah akan usai. Minnow berencana untuk berenang menuju Pulau Piknik, seperti yang dilakukan ibunya dulu. Dan ketika ia berenang, aku yang bersampan di sampingnya sekaligus mendampinginya. Dan ketika Minnow berhasil mencapai Pulau Piknik, kami (aku, Yanny, Cliff, Montomery, dan Stanley) memberikan ucapan selamat kepadanya. Yanny membuat pai yang sangat enak. Stanley memberikan Minnow gelang dengan manik-manik biru buatan sendiri.
Ada kejutan. Ibu Minnow, Mariane, kembali setelah sekitar 30 tahun tidak pulang. Dan menjelang akhir musim panas, Yanny, Mariane, dan Minnow bersampan ke Pulau Piknik. Tiga generasi dalam satu sampan.Sangat indah.
-TAMAT-
B. Tokoh dan Watak
Tokoh
Watak
Gabby G. Cooper / Minnow
Baik, periang, mudah berteman, suka menolong, tipe pekerja keras, tidah mudah menyerah
Anna
Baik, tidak pernah bicara, pengertian, ramah
Yanny
Baik, penyayang, keras kepala, berjiwa memasak, kukuh dengan pendirian
Cliff
Baik, pengertian, penyayang, puitis, suka menolong
Montgomery Moore
Baik, kadang menyebalkan, pengertian, tegar, ramah, tampan
Stanley
Baik, suka menolong, bosanan, periang, penyayang
Wanita pemilik kastil
Cukup baik, ramah, tidak mudah marah
C. Tokoh yang disukai
Saya menyukai tokoh Cliff karena ia tidak mudah menyerah dan suka menolong orang juga pengertian. Cliff itu baik hati.
D. Tokoh yang dilanjutkan Hidupnya
Saya akan melanjutkan hidup Anna. Pada akhirnya, Montgomery Moore melamar Anna. Wanita sekitar Danau Birch heran dan cemburu. Anna pun menerima lamaran Montgomery Moore. Mereka manikah, walaupun Anna lebih tua 5 tahun disbanding Montgomery Moore. Anna meniggal pada usia 95 tahun.
E. Lain-lain
Nama Pengarang : Elaine Medline
Tahun penulisan (asli): 1999
Tahun terbit(di Indonesia): Juli 2008
Jumlah halaman : 184 halaman
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke : 1 (pertama)
Sarah Astari (Ara) 7E / 35
Surat Resmi (Pak Ucok)
SMP Labschool Kebayoran
Jln. K.H. Ahmad Dahlan no. 14 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan Telp. 021 7257367
No. Surat : 012/SMP-LabsKebayoran/IX/2008 Jakarta, 2 September 2008
Lampiran : 1 Lembar
Perihal : Pemberitahuan dan Undangan
Yth. Kepala Sekolah SMP Al-Azhar 01
di Tempat
Dengan hormat,
Dengan in kami beritahukan bahwa kami akan mengadakan acara lomba MTQ dan MHQ dalam rangka mengisi bulan Ramadhan. Kegiatan yang rencananya akan diikuti oleh SMP se-Kodya Jakarta Selatan ini Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Senin-Selasa, 8-9 September 2008
Waktu : Pukul 10.00 – 13.00
Tempat : SMP Labschool Kebayoran
Jumlah peserta: Masing-masing sekolah mengirim 2 peserta MTQ dan 2 peserta MHQ
Materi yang dilombakan: - MTQ dari surah Al-Baqarah ayat 250-286
-MHQ menghafalkan seluruh juz 30 (An-Naba’ – An-Nas)
Sehubungan dengan acara tersebut, dengan ini kami mengundang SMP Al-Azhar 01 dan mohon pertisipasinya dalam mengikuti acara ini.
Kepala SMP Labschool Kebayoran
Drs. Masribi Ali
Jln. K.H. Ahmad Dahlan no. 14 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan Telp. 021 7257367
No. Surat : 012/SMP-LabsKebayoran/IX/2008 Jakarta, 2 September 2008
Lampiran : 1 Lembar
Perihal : Pemberitahuan dan Undangan
Yth. Kepala Sekolah SMP Al-Azhar 01
di Tempat
Dengan hormat,
Dengan in kami beritahukan bahwa kami akan mengadakan acara lomba MTQ dan MHQ dalam rangka mengisi bulan Ramadhan. Kegiatan yang rencananya akan diikuti oleh SMP se-Kodya Jakarta Selatan ini Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Senin-Selasa, 8-9 September 2008
Waktu : Pukul 10.00 – 13.00
Tempat : SMP Labschool Kebayoran
Jumlah peserta: Masing-masing sekolah mengirim 2 peserta MTQ dan 2 peserta MHQ
Materi yang dilombakan: - MTQ dari surah Al-Baqarah ayat 250-286
-MHQ menghafalkan seluruh juz 30 (An-Naba’ – An-Nas)
Sehubungan dengan acara tersebut, dengan ini kami mengundang SMP Al-Azhar 01 dan mohon pertisipasinya dalam mengikuti acara ini.
Kepala SMP Labschool Kebayoran
Drs. Masribi Ali
Surat Pribadi (Bu Dita)
Jakarta, 5 Agustus 2008
Untuk temanku
Intan Hairani F.
di Malang
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Apa kabar, Tan? Bagaimana orang tua dan kakak-adik mu? Semoga baik-baik saja ya. Alhamdulillah.
Tan, aku mau mengucapkan terima kasih untuk kamu dan keluargamu atas kiriman oleh-olehnya. Semoga diberkati Allah SWT ya.. Terima kasih banget udah mau ngasih aku dan keluargaku di sini oleh-oleh yang lumayan banyak. Ciee, yang dari Inggris nih!
Oh iya, certain dong pengalaman kamu selama pergi ke Inggris. Kalau nggak salah kamu tuh ke kota Manchaster ya? Keren banget tuh. Haha.. Pasti disana ada stadion besar yang namanya Old Trafford. YAIYALAAH, secara gitu, kandangnya Manchaster United. Terus-terus, makanan disana pasti enak-enak, sama seperti yang ada di buku panduan kota yang kamu kasih itu. Huah, begitu aku liat, mmm…ma’nyus banget daah.. Hahaha..
Tan, segini aja ya surat dariku. Dibalas jangan lupa! Ceritakan tentang semua pengalaman kam selama berada di Manchaster. Sekalian titip salam buat semua keluarga kamu ya! Bye bye
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salam,
Sarah A.
Untuk temanku
Intan Hairani F.
di Malang
Assalamu’alaikum wr. Wb.
Apa kabar, Tan? Bagaimana orang tua dan kakak-adik mu? Semoga baik-baik saja ya. Alhamdulillah.
Tan, aku mau mengucapkan terima kasih untuk kamu dan keluargamu atas kiriman oleh-olehnya. Semoga diberkati Allah SWT ya.. Terima kasih banget udah mau ngasih aku dan keluargaku di sini oleh-oleh yang lumayan banyak. Ciee, yang dari Inggris nih!
Oh iya, certain dong pengalaman kamu selama pergi ke Inggris. Kalau nggak salah kamu tuh ke kota Manchaster ya? Keren banget tuh. Haha.. Pasti disana ada stadion besar yang namanya Old Trafford. YAIYALAAH, secara gitu, kandangnya Manchaster United. Terus-terus, makanan disana pasti enak-enak, sama seperti yang ada di buku panduan kota yang kamu kasih itu. Huah, begitu aku liat, mmm…ma’nyus banget daah.. Hahaha..
Tan, segini aja ya surat dariku. Dibalas jangan lupa! Ceritakan tentang semua pengalaman kam selama berada di Manchaster. Sekalian titip salam buat semua keluarga kamu ya! Bye bye
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Salam,
Sarah A.
Subscribe to:
Posts (Atom)